Dipantara. Banyak persoalan di organisasi masyarakat sipil dalam menggunakan website dan sosial media. Terkadang organisasi masyarakat sipil gagap dalam menggunakan medium tersebut. Hal ini yang dirasakan  oleh ourvoice yang sedang melakukan pembenahan website dengan kategori news. Menurut Hartoyo, salah seorang pegiat dari organisasi nir-laba tersebut menyatakan, organisasinya merasa kesulitan untuk mendapatkan sumber daya manusia yang mumpuni terkait dengan pembangunan dan pemeliharaan websitenya.

Pasalnya, orang yang memiliki kemampuan tersebut biasanya lebih memilih perusahaan ketimbang bekerja pada organisasi masyarakat sipil. Karena perusahaan umumnya mampu membayar mahal orang dengan kompetensi IT yang bagus. “Kalau toh ada orang yang mau bekerja di OMS, biasanya dia memiliki idealisme tinggi dan hanya segelintir orang,” Ungkapnya

Tidak selesai sampai menemukan orang yang mumpuni, ketika website telah terbangun pun masalah updating data menjadi masalah. Website OurVoice yang diharapkan menjadi website ajang produksi informasi bagi kalangan LGBTI (Lesbian, Guy, Biseksual, Transgender dan Interseksual) justru mengalami kesulitan. Pasalnya, sedikit orang pada organisasi yang berbasis komunitas itu memiliki kebiasaan untuk menulis dan memberikan informasi, sehingga kerap kali, website yang dibangunnya kurang up-date. Anehnya, ada beberapa anggota our voice yang suka menulis, bahkan lebih senang mengunggah tulisannya pada blog pribadinya.

Persoalan updating informasi/pengetahuan dikalangan organisasi masyarakat sipil tidak hanya dialami oleh ourvoice melainkan banyak terjadi pada Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lainnya. Penuturan mengenai hal itupun dapat dilihat dari salah satu paper yang ditulis oleh Rini Nasution dari Satu Dunia, pemutakhiran/updating informasi dan pengetahuan dikalangan OMS masih belum menjadi kekuatan.

Padahal menurutnya, OMS memiliki banyak sekali informasi dan pengetahuan yang berkembang di organisasinya. Namun arus informasi dan pengetahuan masih berada pada staf dan rekan kerja. Pertukaran informasi dan pengetahuan dikalangan OMS melalui website dan sosial media masih minim.

Pendapat lain, dikemukakan oleh Wicak dalam salah satu tulisan di websitenya, menyatakan bahwa website dan sosial media di kalangan OMS berkaitan dengan kekeliruan OMS dalam memandang website. OMS menganggap bahwa penggunaan website membutuhkan budget yang besar, rumit dan hanya menjadi persoalan IT semata.

Pandangan tersebut membuat OMS tidak memposisikan website sebagai bagian strategis di dalam kerja-kerjanya. Meski sebenarnya, website dan sosial media memberikan peluang efektif bagi OMS dalam mendistribusikan pengetahuan dan informasi, media efektif dalam melakukan kampanye dan advokasi.

Bahkan menurut Syaldi Sahude, salah satu pegiat di YLBHI, terkadang organisasi masyarakat sipil sulit menerjemahkan antara kebutuhan organisasi saat membangun website. Kesulitan menerjemahkan kebutuhan tersebut membuat kekeliruan dalam mengambil sebuah kebijakan untuk mempelajari penggunaan website, “Sebenarnya yang dibutuhkan organisasi adalah managemen konten. Namun karena kekurangmengertian sehingga yang dilakukan dengan membuat pelatihan membangun website. Padahal, antara managemen konten dan pelatihan membuat website merupakan dua hal yang terpisah.”

Pendapat tersebut diperkuat oleh Proyek Manager dari SatuDunia, Sugeng Wibowo, “Problematikan yang dihadapi OMS kini adalah persoalan organisasi yang mengesampingkan posisi strategis website dan sosial media dalam mendukung kerja-kerja organisasi. Berbeda ketika organisasi menganggap website dan sosial media menjadi bagian penting. Penabulu merupakan salah satu organisasi yang berhasil menggunakan website.”

Masih menurut Sugeng, perhatian organisasi yang besar terhadap website dan sosial media di Penabulu terlihat dari adanya tim yang memiliki konsen dan mengelola konten website. Awalnya tim tersebut belajar mengenai website melalui kegiatan coaching clinic. Seiring berjalannya waktu, pengetahuan website tersebut tertransformasi ke dalam tim tersebut hingga tim ini mampu membuat website yang menarik.

Indonesia merupakan salah satu negara yang masyarakatnya banyak menggunakan sosial media dan website. Peluang inilah yang semestinya mampu dimanfaatkan dalam menyedot perhatian public. Pasalnya OMS merupakan organisasi yang berasal dari masyarakat dan semestinya mampu memperkuat masyarakat melalui medium website dan sosial media

Di tulis tahun 2013,  bisa jadi masalahnya sudah berubah di OMS, monggo dibales kalo ada yg punya info updatenya